kumpulan postingan entah berantah dan tidak terarah, tertuang disini.

Jumat, 25 November 2011

Mikro Demonstrasi Mahasiswa

Mendengar kata demonstrasi bukanlah suatu hal yang tabuh di telinga masyarakat Indonesia utamanya masyarakat Sulawesi Selatan. Kota yang menjunjung tinggi adat siri’ na pace (malu jika tidak berani dan sakit jika tidak berhasil) dikenal akan aksi unjuk rasanya yang selalu berakhir bentrok. Hal ini merupakan fenomena yang terjadi berulang-ulang kali, hingga Mahasiswa Makassar mendapatkan stigma sebagai Mahasiswa yang anarkis. Mulai dari aksi membakar ban, saling melempar batu, menutup jalan, hingga aksi merusak sarana dan prasarana.
                Berbicara soal sarana dan prasarana, bukankah dana tersebut dari pajak masyarakat ? Bukankah sarana dan prasarana tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ?  Mahasiswa sebagai masyarakat yang juga ikut menikmati hendaknya berfikir lebih dewasa. Memaksimalkan kemampuan dengan memikirkan cara yang lebih efektif dalam menyampaikan segala aspirasinya. Tidak dengan melakukan aksi-aksi yang menambah penderitaan masyarakat selain dari penderitaan dari kalangan pemerintah.  Faktanya bentuk protes yang anarkispun belum tentu akan mendatangkan persetujuan dari Pemerintah. Jika seperti ini, apa keuntungan dari kerusakan tersebut ? Bagaimana dengan stigma tersebut ?
                Unjuk rasa memang bukanlah suatu hal yang illegal. Sebenarnya, demonstrasi merupakan suatu bentuk protes yang wajar dalam menyampaikan segala aspirasi dalam  menentang kebijakan dari suatu pihak, jika di imbangi dengan kecerdasan emosional. Demonstrasi juga bermanfaat sebagai tolak ukur atas kinerja Pemerintah. Suatu hal yang sangat membanggakan saat mahasiswa berperan sebagai sumber inspirasi di lingkungan masyarakat, pemerintahan, dan di kampus.


Beberapa gambaran situasi saat demonstrasi
Mohon maaf apabila terdapat kesamaan wajah :P









Sabtu, 15 Oktober 2011

Cicitcuitcit Mamamiunda "Mama Mami Bunda"

Kalo lagi depan tipi nonton infotainment sama keluarga jadinya pasti ribut (kalo ke-5nya lagi mood ngomong). Ada yang serius pelototin style fashion si objek (Dila "si Toa"), ada pula yang sibuk komen segala kekurangan ataupun kelebihan dari si objek penderita -mulai dari kekurangan kain, sampai kelebihan BEDAK dan GINCU- (PapaAyah "Papayah"). Kalo tadi Dila serius pelototin model berpakaian si objek, yang ini serius ngeker selulit dari atas sampai bawah. Dari depan sampai belakang. Dari pipi sampai betis (Sari "si Sangkakala"). Kalo semuanya ribut, huntunglah masih ada yang bisa duduk tenang dengan manis se-manis rupanya yang hampir sempurna :P (Mutitia "Pa'mojokang"). Naaah.. kalo Mama "Mamamiunda" selain sibuk mengambil kesimpulan yang bisa dijadikan bahan pidato amanat bagi anak-anaknya, sibuk pula meng-hubung-hubungkan kejadian si objek dengan kejadiannya sendiri.


kurang lebih kejadian dan ceritanya seperti ini ...
(penonton waktu itu cuma ada mama, aku, dan Papa) 

mama : Wuah, beda memang. Kalo Raul Lemos laki banget.

aku     : Isss seram, kayak petinju.

mama : Hahah.. ada mantannya mama dulu mirip Raul Lemos loh.

aku    : (lirik papa - cuma diam) 
           Hah ? Jelek pasti. wkwkw huntung tidak jadi Bapak ku ji (ngakak)

mama : Gitu-gitu pelatih boxing (mulai pamer)


papa  : (seperti biasa kalo lagi nggak mood komen, diem. Cool "gue suka gaya Lo, Dad" ^^ )

aku    : Hahaha kalo dulu nikah ki' sama om itu, yang jadi bukan saya di'? 
           Atau jadi ji mungkin tapi tidak manis begini muka ku di' ? 
          (mulai berimajinasi muka yang sekarang di kombinasikan dengan wajah om Raul)

mama : calla, nanti dapatko suami mirip Raul Lemos. hahaha..

aku    : Yah tidak usah mi di bilang-bilang. Masih lama Mama.

mama : Sudah ada kah ? Tidak boleh macam-macam dulu yah.

aku    : Udeeh, tidak lah. Kan tidak boleh. SMP saja dulu di dapat nonton rame-rame di
           omeli seminggu.

mama : Sekarang boleh, cuma kalau ada di kenalkan dulu. Tidak boleh macam-macam.
           KALO KETEMU DI RUMAH SAJA. Mama juga dulu begitu. Ketemu paling di ruang tamu. 
           Itu juga tidak berdua, ada Nenek. Mau di pukul Kakek. Pakai rotan kita dulu. 

aku    : hehehe.. belajar dulu (SOK)
           (senyam-senyum sok polos anak bak anak bungsu yang pantatnya masih biru.
            Dalam hati "jadi ceritanya sudah ada lampu hijau ? iyyyaaaaa eeeee.." :D :D )  


FOTO "MANTAN CALON AYAH" 
   

Senin, 12 September 2011

celoteh

siapa yang membiasakan diri kehilangan ?
siapa yang sudah lupa ?
siapa yang pura-pura lupa ?
siapa yang pura pura sibuk ?
siapa yang mau begitu ?

siapa yang mulai ?
siapa penghianat ?
siapa yang masa lalunya kembali ?
siapa yang tidak merasa bersalah ?

siapa yang sedang berbahagia ?

kenapa pertemanan semacam itu akhirnya juga selalu begitu ?
jangan datang, kembali, jangan datang, kembali, (tidak) sebaiknya jangan datang. 

pertemanan seperti ini mungkin jauh lebih baik dimataNya . 
bukannya saya ingin seperti *U* ?
ini yang saya minta, mulai menjalani :)

BISMILLAH ^_^

Senin, 20 Juni 2011

Jebakan demo 19 Desember 2010


Dear Blogy :)

assalamualaikum wr.wb (yang muslim dijawab ye)

Kali ini mo nge-tiktok soal demo bin demonstrasi. Hari ituuuuu, (hari apa yah ?) Yang pasti pakai seragam kebanggaan "Putih Abu-Abu" jadi kalo gak hari senin, selasa, rabu, yaah kamis. hahhaa gak penting, yang pasti tanggalnya 9 Desember 2010. 


Sehabis menyegarkan diri beberapa jam di kamar Aswarin Prastiani (cepot), waktunya pulang dan menunggu jemputan mobil biru (bekhiik "07", tengok: angkot). Setelah berpuluh-puluh menit menunggu bersama Si Mpuh Kamar,Susann Awiyah, Marwah Pratiwi , Nursyam Syahrir belum ada satupun yang lewat dan menghampiri. Saat bosan menunggu jemputan, banyolan spontan dan pengarahan lensa menjadi hal yang lumrah bagi kami.


 dimenphotograph 1 (14.16 WITA)


Rabu, 15 Juni 2011

the click five - don't let me go

Nah lo ? Mo ngapain yah ? hahha.. nge-tiktok aja yuk. 
Nyoook :)

bueehhdeeh, tadi habis dengar lagunya the click five "don't let me go", langsung kecantol .Nggak cuma keren dari suara dan tampang personilnya, liriknya juga empuk gile di telinga *mulai alay* .