kumpulan postingan entah berantah dan tidak terarah, tertuang disini.

Kamis, 27 Desember 2012

FLASHBACK ?



Flashback.
01.35 WITA...
“drrrttt..” bunyi ponsel bergetar. 1 message received . Open.

From :Key

HOOOOY BANGUUN ! hahaha.. :D
Sudah tidur ? Mau nelfon, boleh ?

Deg ! Suatu tindakan dari jantung gue, satu dentuman yang entah bagaimana dijelasinnya yang jelas GUE KEGIRANGAN TIADA TARA. Bukan karena malam ini bebas dari radiasi pesan togel ataupun M-Kios, tapi karena message dari sosok yang sudah lama gue tunggu, Key *malu*.
Masih dengan posisi jantung yang abnormal, berusaha menekan tuts-tuts handphone dengan cermat yang sedari tadi meleset karena tangan yang nggak seharmonis dengan maunya otak. Oke singkatnya, tangan gue gemeteran parah. Cukup lebay, tapi takdir begitu adanya *halah !* Setelah semua alphabet terangkai, dan segala pertimbangan yang mantap ..
Sent

To : Key
Belum. Boleh sih . Tapi, nggak pake lama yah !

Lagi-lagi ada kebohongan, dan entah kenapa harga diri gue di pasang dengan tarif tinggi  jika berurusan dengan Key. Seolah-olah nggak butuh, nyatanya dia yang gue tunggu. Well, gue cuma nggak mau terlihat lempem dan ...
“drttt.. drttt.. drttt.. drttt..“
Terdengar ada banyak ‘drtt..’ gue masih ingat betul kumpulan nada getaran-getaran ini meski sudah sangat jarang terdengar. Tanda ada telfon masuk. Senada dengan nada ‘drttt..’ jantung gue lebih ‘drtt-drttan’. Ooooh My, ini bilang halo dulu, atau assalamualaikum dulu ? Tanya apa kabar langsung gak apa-apa kali yah ? Nanyain udah putus apa belom  gak apa-apa juga kan yah ? Gue rasa getaran si ‘drttt’ mulai melemah, baiklah.
“Halo” dan akhirnya halo berlalu
“Hahahaha.. suara kaleng, dasar. Gak berubah aja.” Sambarnya kurang ajar. Tapi masih bisa diterima hati gue, bahkan selai senyuman belepotan di bibir.
“ha-he-ha-he, ini gak pake lama yah. Buru, ada apa ?” hiks.. hiks.. sebenarnya  nggak pengen buru-buru kok.
“oohahaha.. hm-ehm-ehm” Dehamannya mengubah suasana “Oke, gue pengen curhat. Soal gue dan Tita”
“Tita ? hahaha.. ini gue yakin ada masalah cinta yang membawa mereka ke jurang perpisahan. Satu jatuh ke jurang mati, yang satunya masih nyangkut di bibir jurang.” Umpat batin gue kurang didikan.
Perbincangan kami terus berlanjut merembes kesegala masa, dengan beberapa tawa dan keluhan yang dia hadirkan. Gue yang tadinya gengsi parah, akhirnya bisa melepas tawa dan sedikit gas beracun. Tapi sungguh, ada sesuatu yang ingin dia katakan, sayang gue sama sekali nggak ngerti. Dan sampai pada intinya ...
“Gue sama Tita, udah nggak bisa kayak dulu lagi. Beberapa bulan terakhir hanya pertengkaran yang ada dihubungan kami”.
“oohh.. bukannya itu bagus yah ?”. Umpat batin gue lagi, sungguh ini batin amat terkutuk.
“Perasaan gue juga udah nggak kayak dulu lagi”. Sambungnya memberikan penekanan di beberapa kata.
“Terus ? Yah, gue pikir Lo ngerti apa yang gue pikir”.
“Putus ? Perasaan gue emang nggak kayak dulu lagi. Tapi gue sama Tita susah untuk pisah. Gue khilaf. Ada tragedi dimana gue sama Tita emang harus tetap lanjut. Tapi disisi lain, gue ternyata masih jatuh cinta dengan teman kecil gue. Tapi jelas, setelah tragedi itu gue nggak ada harapan sama dia”. Jelasnya hati-hati.
Hening.
Gue masih mencoba mencerna kata demi kata. Mungkin bisa menebak saat ini, tapi nggak begitu yakin. Bagai menelan durian bersama duri-durinya, ada perasaan takut, sesak, dan akhirnya sakit. Gue masih diam, begitu juga dengan Key. Kami terjebak dalam pemikiran masing-masing. Tidak ada yang berani memulai percakapan, sampai akhirnya penjelasanlah yang paling kami butuhkan.
Semua penjelasan sudah jelas. Key menjelaskannya secara gamblang namun tetap hati-hati, dengan tidak menggunakan ‘tragedi’ ataupun ‘teman kecil’ lagi.
Sebenarnya sekarang siapa yang jatuh kejurang dan mati ? Tidak ! Sebenarnya siapa yang masih di bibir jurang kemudian mati ? Enam tahun memang tidak ada artinya.
Mata gue memanas, hati juga sakit berasa di baret terus disiram cuka seember, itu pedis. Dan Key tau saat itu pertahanan gue runtuh, akhirnya gue menangis. Dengan segera namun berhati-hati Key bertanya penyebab bulir-bulir air mata yang tidak bisa Ia lihat. Alih-alih prihatin dengan nasibnya yang sekarang, yang sebenarnya karena nasib kami berdua yang memang tidak bisa bersama walau dengan dalih persahabatan dan karena malang dengan waktu yang telah.. telah.. sudahlah !
“Kenapa Lo bisa seberubah ini ? Kenapa Lo harus bergaul dengan mereka ? Hanya itu yang gue sesali Key”. Kami kemudian terdiam. Tidak ada ucapan selanjutnya, sampai saat ini. Begitulah Key, datang tanpa kabar dan pergi tanpa pamit. Semua sesuka hatinya dan begitulah gue, selalu berkutat dengan kebohongan.
Flashback off
Kemudian paragraf ini, iya paragraf berikut ini. Aaaah.. sebenarnya gue paling malas bahas soal ginian. Gue cuma ngerasa 4L@y banget kalo harus menyebut CINTA dan segala variasi katanya. Tapi, yah sudahlah. Jadi begini ...
Bukankah cinta butuh pengorbanan ? Bukankah cinta harus menerima satu sama lain ? Nyatanya, gue belum bisa menerima Key selapang itu. Ada kesadaran, ini bukan cinta. Mungkin selama ini gue hanya terjebak dalam kebiasaan, ‘menunggu’. Toh nyatanya dengan berikap lebih apatis gue bisa lebih baik. 
JANGAN DIPERCAYA, CUKUP DIMAKLUMI !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar