Flashback.
01.35 WITA...
“drrrttt..” bunyi ponsel bergetar. 1
message received . Open.
From
:Key
HOOOOY
BANGUUN ! hahaha.. :D
Sudah
tidur ? Mau nelfon, boleh ?
Deg ! Suatu tindakan dari jantung
gue, satu dentuman yang entah bagaimana dijelasinnya yang jelas GUE KEGIRANGAN
TIADA TARA. Bukan karena malam ini bebas dari radiasi pesan togel ataupun
M-Kios, tapi karena message dari sosok yang sudah lama gue tunggu, Key *malu*.
Masih dengan posisi jantung yang
abnormal, berusaha menekan tuts-tuts handphone dengan cermat yang sedari
tadi meleset karena tangan yang nggak seharmonis dengan maunya otak. Oke
singkatnya, tangan gue gemeteran parah. Cukup lebay, tapi takdir begitu adanya
*halah !* Setelah semua alphabet terangkai, dan segala pertimbangan yang mantap
..
Sent
To : Key
Belum. Boleh sih . Tapi, nggak pake lama yah !
Lagi-lagi ada kebohongan, dan entah
kenapa harga diri gue di pasang dengan tarif tinggi jika berurusan dengan Key. Seolah-olah nggak
butuh, nyatanya dia yang gue tunggu. Well,
gue cuma nggak mau terlihat lempem dan ...
“drttt.. drttt.. drttt.. drttt..“
Terdengar ada banyak ‘drtt..’ gue
masih ingat betul kumpulan nada getaran-getaran ini meski sudah sangat jarang
terdengar. Tanda ada telfon masuk. Senada dengan nada ‘drttt..’ jantung gue
lebih ‘drtt-drttan’. Ooooh My, ini bilang
halo dulu, atau assalamualaikum dulu ? Tanya apa kabar langsung gak apa-apa
kali yah ? Nanyain udah putus apa belom
gak apa-apa juga kan yah ? Gue rasa getaran si ‘drttt’ mulai
melemah, baiklah.
“Halo” dan akhirnya halo berlalu
“Hahahaha.. suara kaleng, dasar. Gak
berubah aja.” Sambarnya kurang ajar. Tapi masih bisa diterima hati gue, bahkan
selai senyuman belepotan di bibir.
“ha-he-ha-he, ini gak pake lama yah.
Buru, ada apa ?” hiks.. hiks.. sebenarnya nggak pengen buru-buru kok.
“oohahaha.. hm-ehm-ehm” Dehamannya
mengubah suasana “Oke, gue pengen curhat. Soal gue dan Tita”
“Tita ? hahaha.. ini gue yakin ada masalah cinta yang membawa mereka ke jurang
perpisahan. Satu jatuh ke jurang mati, yang satunya masih nyangkut di bibir
jurang.” Umpat batin
gue kurang didikan.
Perbincangan kami terus berlanjut merembes
kesegala masa, dengan beberapa tawa dan keluhan yang dia hadirkan. Gue yang
tadinya gengsi parah, akhirnya bisa melepas tawa dan sedikit gas beracun. Tapi
sungguh, ada sesuatu yang ingin dia katakan, sayang gue sama sekali nggak ngerti.
Dan sampai pada intinya ...
“Gue sama Tita, udah nggak bisa kayak
dulu lagi. Beberapa bulan terakhir hanya pertengkaran yang ada dihubungan kami”.
“oohh.. bukannya itu bagus yah ?”.
Umpat batin gue lagi, sungguh ini batin amat terkutuk.
“Perasaan gue juga udah nggak kayak
dulu lagi”. Sambungnya memberikan penekanan di beberapa kata.
“Terus ? Yah, gue pikir Lo ngerti apa
yang gue pikir”.
“Putus ? Perasaan gue emang nggak
kayak dulu lagi. Tapi gue sama Tita susah untuk pisah. Gue khilaf. Ada tragedi
dimana gue sama Tita emang harus tetap lanjut. Tapi disisi lain, gue ternyata
masih jatuh cinta dengan teman kecil gue. Tapi jelas, setelah tragedi itu gue
nggak ada harapan sama dia”. Jelasnya hati-hati.
Hening.
Gue masih mencoba mencerna kata demi
kata. Mungkin bisa menebak saat ini, tapi nggak begitu yakin. Bagai menelan
durian bersama duri-durinya, ada perasaan takut, sesak, dan akhirnya sakit. Gue
masih diam, begitu juga dengan Key. Kami terjebak dalam pemikiran
masing-masing. Tidak ada yang berani memulai percakapan, sampai akhirnya
penjelasanlah yang paling kami butuhkan.
Semua penjelasan sudah jelas. Key
menjelaskannya secara gamblang namun tetap hati-hati, dengan tidak menggunakan
‘tragedi’ ataupun ‘teman kecil’ lagi.
Sebenarnya sekarang siapa yang jatuh kejurang dan mati ? Tidak !
Sebenarnya siapa yang masih di bibir jurang kemudian mati ? Enam tahun memang
tidak ada artinya.
Mata gue memanas, hati juga sakit
berasa di baret terus disiram cuka seember, itu pedis. Dan Key tau saat itu
pertahanan gue runtuh, akhirnya gue menangis. Dengan segera namun berhati-hati
Key bertanya penyebab bulir-bulir air mata yang tidak bisa Ia lihat. Alih-alih
prihatin dengan nasibnya yang sekarang, yang sebenarnya karena nasib kami
berdua yang memang tidak bisa bersama walau dengan dalih persahabatan dan
karena malang dengan waktu yang telah.. telah.. sudahlah !
“Kenapa Lo bisa seberubah ini ?
Kenapa Lo harus bergaul dengan mereka ? Hanya itu yang gue sesali Key”. Kami
kemudian terdiam. Tidak ada ucapan selanjutnya, sampai saat ini. Begitulah Key,
datang tanpa kabar dan pergi tanpa pamit. Semua sesuka hatinya dan begitulah
gue, selalu berkutat dengan kebohongan.
Flashback off
Kemudian paragraf ini, iya paragraf
berikut ini. Aaaah.. sebenarnya gue paling malas bahas soal ginian. Gue cuma
ngerasa 4L@y banget kalo harus menyebut CINTA dan segala variasi katanya. Tapi,
yah sudahlah. Jadi begini ...
Bukankah cinta butuh pengorbanan ?
Bukankah cinta harus menerima satu sama lain ? Nyatanya, gue belum bisa
menerima Key selapang itu. Ada kesadaran, ini bukan cinta. Mungkin selama ini
gue hanya terjebak dalam kebiasaan, ‘menunggu’. Toh nyatanya dengan berikap
lebih apatis gue bisa lebih baik.
JANGAN DIPERCAYA, CUKUP DIMAKLUMI !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar